EkonomiPemerintahanUmum

Optimisme Pasar Modal 2026: Menkeu Proyeksikan IHSG Terus Menanjak di Tengah Penguatan Ekonomi

308
×

Optimisme Pasar Modal 2026: Menkeu Proyeksikan IHSG Terus Menanjak di Tengah Penguatan Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah depan) saat membuka perdagangan awal tahun di Bursa Efek Indonesia, Jumat (2/1/2025)

JATIMHEBAT.COM – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan terus menguat sepanjang tahun ini. Optimisme tersebut didorong oleh kondisi perekonomian domestik yang dinilai semakin solid dan menunjukkan tren perbaikan.

“IHSG dibuka naik, saya pikir ada optimisme di pasar kita akan membaik terus ke depan. Pondasi ekonomi yang sudah membaik, tahun ini akan lebih baik lagi,” kata Menkeu Purbaya saat memberikan keterangan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (2/1/2025).

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Menurut Purbaya, membaiknya perekonomian nasional tidak terlepas dari kebijakan fiskal Kementerian Keuangan yang semakin selaras dengan kebijakan moneter Bank Indonesia. Sinergi tersebut diyakini akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat.

“Jadi pertumbuhan ekonomi seharusnya akan lebih cepat, pelaku pasar siap-siap saja,” ujarnya.

Dalam keterangan pers menjelang tutup tahun sebelumnya, Menkeu juga menyatakan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 masih berpeluang mencapai target sebesar 5,2 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 diperkirakan berada di kisaran 5,5 persen.

“Kalau perekonomian membaik, dunia usaha membaik, seharusnya saham-saham juga ikut naik,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menilai kinerja pasar modal Indonesia masih memiliki ruang untuk tumbuh lebih baik. Ia mencontohkan kinerja Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan, namun pertumbuhannya masih relatif terbatas.

“Indeks LQ45 hanya tumbuh 2,41 persen. Pertumbuhannya masih jauh di bawah kenaikan IHSG,” ujar Mahendra.

Mahendra juga menyoroti kontribusi pasar saham terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional yang meskipun mengalami peningkatan signifikan, masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain di kawasan. Kontribusi pasar saham terhadap PDB tercatat meningkat sekitar 72 persen, dibandingkan kenaikan 56 persen pada akhir 2024.

READ  Menkeu Ungkap Anggaran Sekolah Rakyat Tembus Rp7 Triliun

“Angka ini luar biasa, tetapi masih lebih rendah dibandingkan negara-negara di kawasan,” katanya.

Sebagai perbandingan, kontribusi pasar saham terhadap PDB di India telah mencapai 140 persen, Thailand 101 persen, dan Malaysia 97 persen. Hal ini menunjukkan potensi pengembangan pasar saham Indonesia yang masih sangat besar.

Di sisi lain, Mahendra mencatat adanya lonjakan signifikan dalam porsi transaksi investor ritel di pasar modal Indonesia. Dari sebelumnya sekitar 38 persen pada akhir 2024, meningkat menjadi 50 persen berdasarkan data terakhir tahun 2025.

Proporsi tersebut dinilai cukup besar dibandingkan negara lain yang lebih didominasi investor institusional, baik domestik maupun global. Oleh karena itu, OJK menekankan pentingnya peningkatan perlindungan terhadap investor ritel.

“Investor ritel harus dilindungi dari praktik goreng-menggoreng saham, transaksi tidak wajar, serta kemungkinan bentuk manipulasi lainnya yang dapat merugikan investor,” tegas Mahendra. (UKQ)