PemerintahanUmum

Banyuwangi Jadi Rujukan Smart Village ASEAN, Kemendagri Sebut Best Example

233
×

Banyuwangi Jadi Rujukan Smart Village ASEAN, Kemendagri Sebut Best Example

Sebarkan artikel ini
Bupati Ipuk foto bersama peserta Konsolidasi Nasional ASEAN Smart City Network di Kantor Pemkab Banyuwangi

JATIMHEBAT.COM – Kabupaten Banyuwangi kembali mendapat pengakuan di tingkat regional sebagai salah satu rujukan pengembangan smart village di kawasan ASEAN. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menempatkan Banyuwangi sebagai contoh terbaik penerapan konsep kota cerdas di wilayah pedesaan dalam ajang The 9th ASEAN Smart Cities Network (ASCN) Annual Meeting 2026.

Pertemuan delegasi Indonesia dalam rangkaian forum tersebut berlangsung di Banyuwangi pada 20–21 Juli 2026. Kegiatan yang dipusatkan di Filipina dan digelar secara daring itu mempertemukan kota-kota anggota ASEAN Smart Cities Network (ASCN) untuk berbagi pengalaman dan inovasi dalam pengembangan kota cerdas yang berkelanjutan.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal, mengatakan Banyuwangi bersama DKI Jakarta dan Makassar merupakan anggota paling awal ASEAN Smart Cities Network sejak forum tersebut dibentuk. Saat ini Indonesia memiliki enam daerah yang tergabung dalam ASCN, yakni Banyuwangi, DKI Jakarta, Makassar, Sumedang, Semarang, dan Denpasar.

“Kalau yang ingin belajar tentang pengelolaan smart city di wilayah rural, kami persilakan ke Banyuwangi dan Sumedang sebagai best example. Jadi smart city itu bukan hanya milik kota-kota besar,” ujar Safrizal, Senin (20/7/2026).

Menurut Safrizal, setiap daerah anggota ASCN memiliki karakteristik pengembangan yang berbeda. DKI Jakarta menjadi representasi kota metropolitan, Makassar dan Semarang mewakili kawasan urban, Denpasar mengembangkan konsep kota pariwisata, sementara Banyuwangi dan Sumedang menjadi contoh implementasi smart village di kawasan pedesaan.

Dalam sidang tahunan tersebut, masing-masing daerah mempresentasikan inovasi unggulannya. Banyuwangi memperkenalkan program Smart Kampung sebagai model digitalisasi pelayanan publik berbasis desa. Sementara itu, Jakarta memaparkan layanan publik digital terintegrasi, Makassar menampilkan inovasi pelayanan berbasis teknologi, Sumedang mengangkat digitalisasi desa, Semarang mempresentasikan strategi kota tangguh, dan Denpasar mempromosikan pengembangan pariwisata digital.

READ  Pemkab Banyuwangi Tiadakan Tour de Banyuwangi Ijen 2026, Fokus pada Program Prioritas Masyarakat

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan penunjukan Banyuwangi sebagai lokasi pertemuan delegasi Indonesia merupakan amanah dari Kementerian Dalam Negeri sekaligus bentuk apresiasi terhadap konsistensi daerah tersebut dalam mengembangkan konsep smart city sejak bergabung dalam ASEAN Smart Cities Network pada 2015.

“Bagi Banyuwangi, saat ini kami fokus pada pengentasan kemiskinan. Karena itu, pelayanan publik yang cepat dan memberikan dampak langsung kepada masyarakat menjadi prioritas, terutama di sektor pendidikan dan kesehatan,” kata Ipuk.

Ia menjelaskan, penguatan layanan publik dilakukan melalui pemanfaatan teknologi digital, penyediaan basis data yang akurat, serta pelibatan masyarakat dalam berbagai program pembangunan. Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan pelayanan pemerintah sekaligus memastikan manfaat program benar-benar dirasakan masyarakat.

Keikutsertaan Banyuwangi dalam ASEAN Smart Cities Network menjadi bukti bahwa transformasi digital tidak hanya relevan bagi kota-kota besar, tetapi juga mampu diterapkan secara efektif di wilayah pedesaan melalui konsep smart village yang berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat. (XRT)