PolitikUmum

JD Vance Beberkan Alasan AS Menangkap Presiden Venezuela Maduro

338
×

JD Vance Beberkan Alasan AS Menangkap Presiden Venezuela Maduro

Sebarkan artikel ini
Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istri, Cilia Flores saat ditangkap pasukan Militer AS pada Sabtu (3/1/2026) dini hari (Foto: Akun X @theroelynnstone)

JATIMHEBAT.COM – Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance memberikan penjelasan terkait kebijakan Washington terhadap Venezuela menyusul kritik internasional atas penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.

Dalam pernyataannya melalui platform media sosial X, Minggu (4/1/2026), Vance menyebut Venezuela memiliki peran signifikan dalam perdagangan narkoba global. Ia menegaskan pandangan tersebut menjadi salah satu dasar sikap keras pemerintah Amerika Serikat terhadap Caracas.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Vance juga menyinggung sejarah pengambilalihan aset minyak milik perusahaan Amerika Serikat oleh pemerintah Venezuela sekitar dua dekade lalu. Menurutnya, langkah tersebut telah merugikan kepentingan Washington selama puluhan tahun.

Menanggapi klaim yang menyebut Venezuela tidak berkaitan dengan perdagangan narkoba karena sebagian besar fentanil berasal dari wilayah lain, Vance menilai pandangan tersebut mengabaikan fakta penting. Ia menekankan bahwa fentanil bukan satu-satunya narkoba yang diperdagangkan secara global.

“Pasokan fentanil juga pernah berasal dari Venezuela,” kata Vance.

Selain fentanil, Vance menyoroti peredaran kokain sebagai komoditas utama narkoba yang diperdagangkan keluar dari Venezuela. Menurutnya, kokain masih menjadi sumber pendapatan besar bagi kartel narkoba di Amerika Latin.

Ia menilai upaya memutus atau mengurangi aliran dana dari perdagangan kokain akan secara signifikan melemahkan kekuatan kartel narkoba. Vance menyebut kokain sebagai ancaman serius yang tidak boleh diabaikan dalam kebijakan pemberantasan narkoba Amerika Serikat.

Meski demikian, Vance mengatakan Meksiko tetap menjadi fokus utama kebijakan antinarkoba AS karena perannya dalam perdagangan fentanil. Ia juga merujuk pada kebijakan Presiden Donald Trump yang menutup perbatasan pada hari pertama masa jabatannya sebagai bagian dari strategi tersebut.

Terkait isu energi, Vance kembali menegaskan bahwa Venezuela telah mengambil alih aset minyak milik perusahaan AS sekitar dua dekade lalu. Ia menilai sumber daya tersebut, hingga beberapa waktu terakhir, digunakan untuk memperkaya negara Venezuela serta mendanai aktivitas yang ia sebut sebagai narkoterorisme.

READ  Persebaya Surabaya Raih Kemenangan Perdana di BRI Super League 2025/2026

Vance mengakui adanya kekhawatiran internasional terkait penggunaan kekuatan militer. Namun, ia mempertanyakan sikap pasif terhadap tindakan yang ia gambarkan sebagai pencurian aset oleh pemerintahan komunis di kawasan Belahan Barat.

Pernyataan Vance disampaikan sehari setelah Presiden Donald Trump mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Penangkapan tersebut dilakukan melalui operasi militer Amerika Serikat pada Sabtu (3/1/2026) dini hari.

Trump juga menyatakan Amerika Serikat akan mengambil alih kendali pemerintahan Venezuela untuk sementara waktu, termasuk dengan pengerahan pasukan jika diperlukan. Ia menuduh Maduro mengawasi pengiriman narkoba ke Amerika Serikat serta mempertahankan kekuasaan secara tidak sah melalui kecurangan pemilu.

Maduro, yang kini ditahan di fasilitas penahanan di New York, akan diproses secara hukum atas tuduhan terkait narkoba. Namun, ia membantah seluruh tuduhan tersebut, sementara sejumlah pejabat di Caracas menyerukan pembebasan Presiden Venezuela tersebut. (YHZ)