EkonomiUmum

Tekanan Global Meningkat, Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000 Akibat Efek Trump

209
×

Tekanan Global Meningkat, Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000 Akibat Efek Trump

Sebarkan artikel ini

JATIMHEBAT.COM – Nilai tukar rupiah kembali terpuruk terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (19/1/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat melemah 0,40 persen atau 68 poin ke level Rp16.955 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah salah satunya dipicu oleh kebijakan Presiden AS Donald Trump yang dinilai semakin memperburuk sentimen pasar global. Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut ancaman Trump untuk memberlakukan tarif baru terhadap sejumlah negara Eropa menjadi faktor utama pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

“Presiden Trump mengancam akan memberlakukan tarif baru terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencananya agar AS mengakuisisi Greenland,” kata Ibrahim, Senin sore.

Trump menyatakan akan mengenakan tarif sebesar 10 persen terhadap barang-barang dari negara-negara tersebut mulai 1 Februari 2026. Bahkan, jika hingga Juni tidak tercapai kesepakatan, tarif tersebut berpotensi dinaikkan menjadi 25 persen.

Beberapa negara yang menjadi target kebijakan tarif tersebut antara lain Prancis, Jerman, dan Inggris, serta sejumlah negara Nordik dan Eropa Utara lainnya.

“Pengumuman tersebut menuai kritik tajam dari para pejabat Eropa. Kekhawatiran juga muncul akan terjadinya sengketa perdagangan transatlantik yang lebih luas,” ujar Ibrahim.

Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang masih cukup kuat dan tidak selemah perkiraan sebelumnya. Hal ini memicu keraguan pelaku pasar apakah Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga hingga dua kali sepanjang tahun ini.

Sementara itu, dari kawasan Asia, perekonomian Tiongkok tercatat tumbuh 5 persen sepanjang 2025, sesuai dengan target pemerintahnya. Negeri Tirai Bambu juga mencatat rekor perdagangan barang di pasar global, yang berfungsi mengimbangi lemahnya konsumsi domestik.

READ  Kasus KDRT Surabaya Naik Penyidikan: Polisi Buru Tersangka, Korban Tolak Mediasi

Dari dalam negeri, Ibrahim mencermati kondisi fiskal dan moneter Indonesia, termasuk ambisi pemerintah untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan sentimen negatif tambahan terhadap rupiah.

“Kekhawatiran defisit anggaran yang mendekati batas maksimal undang-undang sebesar 3 persen semakin menekan rupiah. Di sisi lain, ruang intervensi Bank Indonesia untuk mengendalikan volatilitas nilai tukar juga relatif terbatas,” jelasnya.

Diketahui, Bank Indonesia (BI) telah mengerahkan berbagai instrumen kebijakan untuk menahan laju pelemahan rupiah. Namun demikian, tekanan eksternal yang kuat membuat rupiah tetap berada dalam tren pelemahan.

Meski begitu, Ibrahim memperkirakan BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 21 Januari 2026. (NTY)