PemerintahanUmum

Hilal Belum Terlihat di Jawa Timur, Kemenag Jatim Minta Masyarakat Tunggu Hasil Sidang Isbat

305
×

Hilal Belum Terlihat di Jawa Timur, Kemenag Jatim Minta Masyarakat Tunggu Hasil Sidang Isbat

Sebarkan artikel ini
Proses rukyat di Pelabuhan Branta, Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, yang juga dihadiri Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar (Foto: Humas Kemenag Jatim)

JATIMHEBAT.COM – Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur (Kanwil Kemenag Jatim) telah melaksanakan pemantauan rukyatul hilal untuk menentukan 1 Syawal 1447 Hijriah pada Kamis (19/3/2026) petang. Berdasarkan hasil pengamatan di puluhan titik, posisi hilal dilaporkan belum memenuhi kriteria yang ditetapkan.

Proses pengamatan berlangsung singkat selama sembilan menit, mulai pukul 17.40 WIB hingga 17.49 WIB, dengan bantuan alat optik teleskop. Kepala Kanwil Kemenag Jatim, Akhmad Sruji Bahtiar, mengungkapkan bahwa data astronomis di wilayah Jawa Timur menunjukkan posisi hilal masih cukup rendah.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Berikut adalah rincian teknis hasil pantauan:

1. Ketinggian Hilal: Tercatat di kisaran 1, 425 derajat (ambani batas minimal MABIMS adalah 3 derajat)

2. Elongasi Hilal: Tercatat sekitar 5,30 dejata (Ambang batas minimal MABIMS adalah 6,4 derajat).

“Dengan kondisi tersebut, hilal di Jawa Timur belum berhasil teramati,” jelas Bahtiar melalui keterangan tertulisnya saat memantau langsung di Pelabuhan Branta, Pamekasan.

Seluruh hasil pengamatan dari 28 titik di Jawa Timur akan segera dilaporkan ke Kementerian Agama RI di Jakarta. Data ini akan menjadi bahan pertimbangan utama dalam Sidang Isbat penetapan Idulfitri 1447 H.

Bahtiar mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak mendahului keputusan resmi. “Kami mengajak seluruh umat Islam untuk menantikan hasil sidang isbat yang akan diumumkan oleh pemerintah,” tambahnya.

Menanggapi potensi adanya perbedaan dalam penetapan hari raya, Kakanwil Kemenag Jatim menekankan pentingnya sikap saling menghormati. Menurutnya, perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tidak boleh memicu perpecahan.

“Perbedaan adalah keniscayaan. Justru hal tersebut harus menjadi sarana untuk mempererat persaudaraan, menjaga kerukunan, dan memperkuat persatuan,” tegas Bahtiar.

Ia menutup pesannya dengan mengajak umat Islam menyambut Idulfitri dengan semangat kebersamaan dan menjaga suasana yang damai di tengah masyarakat. (SQP)

READ  Melalui Pertamina Peduli, PGN Salurkan Bantuan ke Sumatera Utara dan Aceh