EkonomiUmum

RAPBN 2027, Pemerintah Tetapkan Asumsi Rupiah Rp17.500 per Dolar AS

297
×

RAPBN 2027, Pemerintah Tetapkan Asumsi Rupiah Rp17.500 per Dolar AS

Sebarkan artikel ini

JATIMHEBAT.COM – Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menyepakati asumsi nilai tukar rupiah berada di level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Penetapan angka ini menjadi sinyal bahwa pemerintah dan bank sentral tetap mengkalkulasi berbagai tekanan terhadap mata uang Garuda di tengah upaya menjaga stabilitas makroekonomi, arus modal, investasi, serta pembiayaan negara.

Kesepakatan tersebut dicapai dalam rapat pembahasan RAPBN 2027 yang melibatkan Pemerintah, BI, dan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI pada Jumat (28/8/2026).

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman, mengonfirmasi bahwa proyeksi nilai tukar rupiah untuk 2027 diselaraskan dengan patokan dalam RAPBN.

“Itu seharusnya sesuai dengan RAPBN Rp17.500,” kata Aida.

Angka Rp17.500 per dolar AS tersebut berada di batas atas dari proyeksi awal yang sempat disampaikan BI pada pembahasan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027, di mana rupiah sebelumnya diperkirakan bergerak di rentang Rp16.800–Rp17.500 per dolar AS. Dengan kata lain, pemerintah dan BI kini resmi menetapkan batas atas tersebut sebagai asumsi tunggal dalam penyusunan anggaran.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, penetapan asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS dalam RAPBN 2027 ini dipasang beriringan dengan target rata-rata imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sebesar 6,9%.

Menurut Purbaya, kombinasi antara asumsi kurs dan yield SBN merupakan bagian dari kerangka kebijakan komprehensif untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional.

“Seiring dengan kebijakan pemerintah untuk perkokoh stabilitas makro, menjaga arus modal, meningkatkan investasi, dan kinerja ekspor, serta pengelolaan pembiayaan yang pruden,” ujar Purbaya.

Asumsi nilai tukar merupakan salah satu indikator vital dalam kalkulasi APBN. Pergerakan mata uang akan berdampak langsung terhadap berbagai variabel fiskal, mulai dari penerimaan negara sektor migas, belanja barang dan modal, pembayaran bunga kewajiban dalam valuta asing, hingga beban pembiayaan utang.

READ  HUT ke-80 RI: Pemerintah Tetapkan 18 Agustus 2025 sebagai Libur Nasional, Ajak Masyarakat Meriahkan Perayaan

Dari kacamata moneter, stabilitas rupiah berkaitan erat dengan arus modal asing (capital flows) serta daya pikat aset keuangan domestik. Oleh karena itu, penetapan yield SBN 10 tahun di level 6,9% ditargetkan mampu menjaga keseimbangan antara efisiensi pembiayaan negara dan daya tarik bagi para investor.

Selain itu, pemerintah turut menempatkan penguatan kinerja ekspor dan percepatan investasi sebagai pilar utama untuk memperkuat fundamental ekonomi nasional dan menopang pergerakan rupiah dari sisi pasokan valas.

Melalui penetapan asumsi Rp17.500 per dolar AS, pemerintah pada dasarnya merancang struktur APBN 2027 dengan memperhitungkan ruang gerak rupiah yang relatif tertekan oleh dinamika global. Asumsi yang moderat ini diharapkan menjadi pijakan yang aman (buffer) dalam mengelola risiko fiskal jika gejolak pasar keuangan internasional meningkat.

Tantangan utama ke depan adalah memastikan bahwa asumsi angka tersebut didukung oleh bauran kebijakan fiskal dan moneter yang solid, guna mempertahankan kepercayaan pasar serta menjaga daya tahan perekonomian Indonesia secara berkelanjutan. (RQE)