PendidikanUmum

44 Ribu Anak Tidak Sekolah di Jatim, Sri Untari Usulkan Perluasan Program PJJ

212
×

44 Ribu Anak Tidak Sekolah di Jatim, Sri Untari Usulkan Perluasan Program PJJ

Sebarkan artikel ini
Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Sri Untari

JATIMHEBAT.COM – Persoalan anak tidak sekolah (ATS) di Jawa Timur masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan penanganan serius. Tercatat sekitar 44 ribu anak belum mengenyam atau tidak melanjutkan pendidikan. Untuk mengatasi persoalan tersebut, Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Sri Untari, mengusulkan perluasan program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) agar akses pendidikan semakin terbuka bagi anak-anak dengan berbagai keterbatasan.

Sri Untari mengatakan, tingginya angka anak tidak sekolah dipengaruhi beragam faktor. Mulai dari persoalan ekonomi, tuntutan membantu pekerjaan orang tua, pernikahan dini, aktivitas sebagai atlet, hingga anak yang memang tidak memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Advertisement

“Anak tidak sekolah ini penyebabnya macam-macam, antara lain ada yang harus bekerja membantu orang tua, kemudian menikah, menjadi atlet, dan ada pula yang memang tidak ingin sekolah. Nah, bagi yang tidak ingin sekolah ini harus digarap tersendiri,” ujar Sri Untari, Kamis (5/11/2026).

Menurutnya, penanganan anak tidak sekolah tidak bisa dilakukan dengan satu pendekatan yang sama. Pemerintah perlu memetakan penyebab setiap kasus agar intervensi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing anak.

Anak-anak yang terpaksa berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi, tetapi masih memiliki keinginan untuk belajar, perlu mendapatkan fasilitas pendidikan alternatif. Salah satu solusi yang dinilai potensial adalah memperluas program Pembelajaran Jarak Jauh.

Sri Untari mencontohkan pengalamannya saat melakukan studi ke Jawa Tengah. Di wilayah tersebut, kelompok masyarakat yang masuk kategori desil 1 dan 2 mendapatkan perhatian melalui program pemberdayaan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.

“Di Jawa Tengah, kelompok desil 1 dan 2 digarap dengan program untuk membangun dan meningkatkan kondisi ekonomi mereka,” ungkapnya.

Ia menilai, persoalan ekonomi keluarga menjadi salah satu faktor penting yang harus diselesaikan agar anak-anak memiliki kesempatan kembali mengakses pendidikan. Karena itu, program pendidikan perlu berjalan beriringan dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

READ  Sambut HUT ke-36, PT Karabha Digdaya Kumpulkan 106 Kantong Darah untuk Masyarakat

PJJ Dinilai Jadi Solusi Anak Putus Sekolah dan Atlet

Selain membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu, Sri Untari menilai program Pembelajaran Jarak Jauh juga relevan bagi anak-anak yang memiliki aktivitas khusus, seperti menjadi atlet.

Melalui sistem pembelajaran jarak jauh, mereka tetap dapat memperoleh pendidikan tanpa harus meninggalkan kegiatan atau pekerjaan yang menjadi bagian dari kesehariannya.

” PJJ ini betul-betul mampu memfasilitasi kebutuhan tersebut, karena sumber daya manusia merupakan bagian yang sangat pokok dalam pengembangan sebuah provinsi ataupun negara. Sehingga kita tidak bisa meninggalkan mereka,” tegas Sri Untari.

Menurutnya, pendidikan merupakan hak setiap anak yang harus tetap terpenuhi, terlepas dari kondisi ekonomi, pekerjaan, maupun aktivitas yang dijalani. Karena itu, pemerintah perlu menghadirkan sistem pendidikan yang lebih fleksibel dan mampu menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini kesulitan mengakses sekolah formal.

Sri Untari berharap perluasan program PJJ dapat menjadi salah satu strategi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menekan angka anak tidak sekolah yang masih mencapai sekitar 44 ribu orang.

Dengan pendekatan yang disesuaikan berdasarkan penyebab anak putus sekolah, serta dukungan program pemberdayaan ekonomi keluarga, diharapkan semakin banyak anak di Jawa Timur memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan.

Upaya tersebut sekaligus menjadi investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mendukung pembangunan Jawa Timur ke depan. (UEG)